Bakti
Bakti Maulana Rosyid, S.H., M.H.
Putra Ketiga dari
Bapak Abdul Manan (Alm)
& Ibu Titik
Di tengah hiruk-pikuk Bandung yang sejuk dan ramai, dua jiwa yang belum saling mengenal dipertemukan oleh takdir. Bakti, seorang pemuda pendiam yang datang ke Bandung untuk berlibur, tak sengaja duduk di sebelah Wulan di sebuah kafe kecil dekat Dago. Wulan, gadis ceria asli Cirebon yang sedang berlibur juga di Bandung tersenyum duluan, memecah kekakuan. Dari perbincangan ringan tentang kopi, obrolan mereka mengalir menjadi diskusi tentang mimpi dan masa depan.
Esoknya , Bakti yang sudah kembali ke Bogor untuk melaksanakan diklat hakim dan tak bisa melupakan senyum dan tawa Wulan. Mereka terus berbalas pesan, saling mengenal lebih dalam melalui sosial media. Hingga berselang beberapa purnama, Wulan mengundang Bakti ke Cirebon. Di sana, ia memperkenalkan Bakti kepada orang tuanya dengan malu-malu, meski belum ada status yang jelas. Kota itu menjadi saksi kebersamaan mereka berjalan di alun-alun, mencicipi empal gentong, dan tertawa tanpa beban.
Tak lama berselang, giliran Bakti yang mengajak Wulan ke Malang, kampung halamannya. Perjalanan itu menjadi langkah penting. Di antara sejuknya udara Batu dan aroma apel segar, Bakti menggenggam tangan Wulan lebih erat. Di hadapan keluarganya, ia tak banyak bicara, namun matanya berbicara lebih dari cukup—bahwa Wulan adalah rumah yang selama ini ia cari.
Dari Bandung ke Cirebon, lalu ke Malang—tiga kota yang berbeda, tapi semuanya menyimpan jejak langkah mereka. Cinta mereka tumbuh bukan karena kemewahan atau drama besar, tapi dari perjalanan, dari keberanian membuka hati, dan dari rasa yang pelan-pelan tumbuh menjadi pasti.
Tanpa mengurangi rasa hormat, bagi Bapak/Ibu/Saudara/i yang ingin memberikan tanda kasih untuk kami, dapat melalui:
Konfirmasi Kehadiran
& Ucapan Selamat
Turut Mengundang :