Undangan Pernikahan
Ayu & Dicky














“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)
Kami melewati masa SMP dan SMA di gedung yang sama, berjalan di lorong yang sama, mengikuti upacara di lapangan yang sama, bahkan mungkin pernah duduk bersebelahan tanpa menyadarinya. Saat kuliah pun, kami tinggal di kota yang sama—berbagi udara, lampu jalan, dan senja yang serupa, namun tetap tak saling kenal. Seolah semesta ingin terus mempertemukan kami dalam jarak yang nyaris, tapi belum cukup dekat untuk menyapa. Kami adalah dua garis sejajar yang terus berjalan beriringan, menunggu waktu yang tepat ketika takdir akhirnya memutuskan: sudah waktunya saling tahu.
Di saat kami sama-sama lelah mencari arah, hidup mempertemukan kami tanpa rencana. Bukan lewat kebetulan, tapi waktu yang akhirnya tepat. Bukan juga lewat peristiwa besar, hanya momen kecil yang terasa hangat dan benar: sebuah percakapan sederhana, tatapan yang terasa familiar, dan diam-diam, hati kami seperti mengangguk—“Akhirnya.”
Perjalanan kami dipenuhi tantangan, tapi setiap perbedaan justru membuat kami saling mengenal lebih dalam. Kami belajar tumbuh bersama, menyatukan dua dunia menjadi satu tujuan. Tak selalu mudah, tapi selalu terasa benar. Dan akhirnya, kami memutuskan untuk menjadi satu dalam ikatan suci. Karena sejak awal: ini adalah rumah yang ingin dijaga selamanya.


